Kurangi Anak Primary Gadget, Orang Tua Pilih Anaknya Sekolah Tatap Muka

Peningkatan penggunaan teknologi bisa dilakukan dengan belajar secara on line maupun melalui diklat. Untuk Kabupaten Magelang, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Magelang telah mengadakan kegiatan Diklat daring Office 365 secara serentak pada tanggal 29 Juni sampai dengan 2 Juli 2020. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar Maidi Armansyah menanggapi, Disdik memahami kesulitan orang tua selama dilaksanakannya pembelajaran jarak jauh, baik untuk mendampingi siswa belajar maupun masalah quota bagi yang belajar on-line Daftar Situs Judi Slot Terpercaya 2021. “Kalau saya baca edaran yang muncul di fb, kegiatan belajar sekitar 3-4 jam sehari tanpa istirahat. Susah bagi anak SD untuk tidak berkerumun dengan temannya,” lanjutnya.

Pembelajaran tatap muka terbatas dikombinasikan dengan pembelajaran jarak jauh untuk memenuhi protokol kesehatan. Satuan pendidikan wajib memenuhi daftar periksa sebelum memulai layanan pembelajaran tatap muka terbatas. Orang tua merasakan benar sulitnya menyuruh anak belajar dan mengerjakan tugas, hingga kesulitan ini berdampak pada menurunnya kualitas belajar anak. Dari survei di atas, orang tua banyak yang mengeluhkan bahwa anak sering menyepelekan belajar, menunda mengerjakan tugas, hingga akhirnya orang tua yang panik dan marah-marah ketika anak gagal mengumpulkan sesuai tenggat waktu. Manajemen waktu anak pun berantakan karena tidak semua bisa disiplin kapan harus belajar, kapan harus bermain, kapan harus beribadah.

Keterbatasan penjelasan materi juga terkendala pendampingan orang tua karena harus bekerja. Sementara bagi orang tua yang tidak mengizinkan anaknya pembelajaran tatap muka maka anak tersebut harus tetap difasilitasi pendidikan jarak jauh. Nadiem meminta Pemda untuk mempertimbangkan dengan matang pembelajaran tatap muka karena virus COVID-19 masih menyebar dan perlu ditekan lajunya.

Selain itu nanti harus melalui protokol kesehatan yang sangat ketat dari semua pemangku pendidikan termasuk orang tua dan penngantar siswa. Yang penting selama tatap muka terbatas harus tetap harus waspada. Anak-anak juga sudah saya biasakan menggunakan masker,” tandas Risa. Meskipun alasan di atas menunjukkan betapa besar kerugian yang dihadapi anak menyangkut pendidikan mereka, tetap lihat situasi dan kondisi sebelum memutuskan anak untuk kembali ke sekolah.

“Harus memegang prinsip kebebasan memilih, karena ini kan mengenai kesehatan masing-masing,” tambah Nadiem dikutip dari Kompas.com. “Pendidikan dan kesehatan merupakan investasi besar untuk 10 sampai 20 tahun ke depan. Apapun keputusan yang kita buat sekarang berdampak pada tahun mendatang. Saya terharu sekaligus mendukung proses ini bisa kembali regular,” sambung dia. Liputan6.com, Jakarta – Pembelajaran tatap mukasegera dilakukan usai para pendidik dan tenaga kependidikan melakukan vaksinasi Covid-19.

Tanggapan orang tua mengenai sekolah tatap muka

Karena kebijakan ditangan beliau,kita hanya melaksanakan sesuai dengan perintah,”ucapnya. Lebih lanjut, di beberapa negara banyak yang terjadi lonjakan Covid-19. Sebab semua warga sekolah, termasuk guru dan staf, dan juga masyarakat memiliki risiko yang sama untuk tertular dan menularkan covid-19. “Walaupun beberapa arahan dari sekolah saya melihat sudah ada arahan yang baik dan juga sudah ada standarisasi yang baik, seperti apa seharusnya sekolah itu menerapkan rencana untuk pendidikan tatap muka ini,” ujar Dewi kepada VOA.

Sementara banyak juga warganet yang mempertanyakan kesiapan protokol kesehatan di sekolah. Dia menulis “Apakah sekolah di Medan sudah siap untuk belajar tatap muka pak. Tapi apa sekolah bisa dengan banyaknya siswa di sekolah, dan akan terjadi kerumunan. Kalau sekolah siap melengkapi, orang tua pun jadi tenang melepas anaknya belajar tatap muka”. Sejak pembelajaran daring diberlakukan, Irsyadi menuturkan kegiatan belajar mengajar yang dilakukan memanfaatkan aplikasi whatsapp .